Kumpulan aktivitas unik di desa Wae Rebo - Vizitrip Blog
1861
post-template-default,single,single-post,postid-1861,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode_grid_1300,footer_responsive_adv,qode-content-sidebar-responsive,qode-theme-ver-13.5,qode-theme-bridge,wpb-js-composer js-comp-ver-5.4.5,vc_responsive
malam berbintang di Wae Rebo

Kumpulan aktivitas unik di desa Wae Rebo

Why is everyone so crazy about it?

Desa yang dijuluki sebagai desa di atas awan ini merupakan desa yang dihuni suku Manggarai yang masih mempertahankan adat turun – temurun. Tentunya kamu udah denger tentang desa ini, bersliweran di timeline Instagram kamu. Tapi, kenapa sih desa ini menjadi begitu tersohor? Yuk simak jawabannya dari kompilasi aktivitas di Wae Rebo ala Vizitrip berikut ini!

Di ketinggian 1000 mdpl, desa Wae Rebo tersembunyi dibalik hutan hujan tropis, jalanan terjal dan perbukitan. Saking indahnya, pada tahun 2012, UNESCO telah memberikan penghargaan untuk desa Wae Rebo atas upaya masyarakat setempat untuk melestarikan bangunan rumah adat meski ada kesulitan dan tantangan, seperti akses transportasi. Disebut dengan Mbaru Niang, setiap rumah dihuni 5 – 6 kepala keluarga. Uniknya, hanya ada 7 rumah di desa ini. Kenapa hanya ada 7 rumah? Karena 7 rumah ini dibangun sebagai bentuk peringatan 7 puncak gunung yang mengelilingi Wae Rebo, yang dipercaya sebagai penjaga desa tersebut.

Desa di atas awan

Keunikan desa ini terletak justru pada lokasinya yang berada di dataran tinggi. Justru karena terkesan ‘terisolasi’ ini, kamu dapat merasakan kehidupan sehari – hari masyarakat setempat. Ketika kamu sampai disana, kamu akan tahu kenapa sih desa ini disebut dengan desa di atas awan. Sejak pagi, lalu menjelang petang hingga pagi lagi, desa ini selalu diselimuti awan. Kamu bisa melihat indahnya pemandangan yang ngga akan kamu temuin di tempat lain. Pemandangan laut Savu dan pulau Mules di bawah, dikelilingi Gunung Inerie dan hutan berkabut. Kamu juga akan melihat banyak binatang tropis seperti kupu – kupu dan burung.

Pulau Mules, Flores

via florespos.id

Sungai Wae Lomba, Pocoroko

Dari Denge, desa terdekat dari Wae Rebo, kamu membutuhkan waktu mendaki selama 2 – 3 jam. Selama mendaki, kamu akan ditemani suara burung. Persis seperti komik Asterix! Nah, sebelum memasuki desa ini, kamu harus mengikuti upacara selamat datang terlebih dahulu di dalam rumah. Lokasi ini merupakan tempat istirahat pertama sebelum kamu melanjutkan perjalanan trekkingmu. Setelah berjalan melewati hutan hujan selama 1 jam, kamu akan menikmati indahnya sungai Wae Lomba. Mata air sungai ini mengalir ke desa Kombo ke desa Sebu. Disini, kamu tidak bisa sembarangan bermain air, kamu hanya diperbolehkan mengisi air untuk bekal perjalananmu dan cuci muka.

Sungai Wae Lomba di Wae Rebo

via karienass

Nginep di Mbaru Niang

Salah satu rumah digunakan untuk wisatawan menginap. Biasanya, kamu akan tidur bersama 50 wisatawan lain yang ingin merasakan pengalaman unik ini! Rumah ini berbentuk lingkaran kerucut tradisional dengan arsitektur yang sangat unik ini memiliki atap daun lontar. Di pagi hari, kamu bisa menyaksikan bagaimana gaya hidup suku Manggarai dan ketika mereka bercocok tanam kopi. Malamnya, kamu bisa nonton langit bertabur bintang. Seru banget!

Mbaru niang rumah adt Wae Rebo

malam berbintang di Wae Rebo

via journesia

Suku Manggarai

Konon, nenek moyang suku Manggarai yang tinggal di Wae Rebo ini berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat. Bisa dilihat dari kain tenun yang diproduksi oleh penduduk setempat. Kamu bisa melihat bagaimana uniknya tradisi, musik kuno dan bahkan bahasa yang digunakan.

Ritual penti di Wae Rebo

via visitkomodotours

No Comments

Post A Comment